my previous precious speed hunter, Ninja 150R

4 September 2009

ninja

Udara kampus hari itu terasa sangatlah dingin. Sudah kujalani berminggu-minggu kuliah disini. Teman-teman, dosen-dosen, bahkan setiap depot kantin kampus Fakultas Ekonomi Brawijaya sampai detik itu sudah kukenali dengan baik. Namun masih ada yang kurang dalam hatiku.

Sejak SMA kelas 2, disaat pertama kalinya aku menginjak umur 17, dengan bangganya aku bisa mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) C dan A. Namun karena masih SMA dan hanya membutuhkan mobilitas tinggi, oleh karena itu Bapak membelikanku Honda Astrea Supra 2002 hitam dengan strip kuning merah. Setiap harinya sampai ku lulus SMA, motor itu sudah mendarah daging dibenakku. Namun setelah aku mendapatkan diriku tuk kuliah Di Malang, motor itu akhirnya lengser di tangan adik laki-lakiku untuk bersekolah juga di Depok sehingga mau tidak mau aku harus menerimanya toh motor itu hanya amanah bagiku untuk menempuh kewajiban-kewajibanku sebagai seorang pelajar.

Tetapi entah mengapa, mungkin karena terbiasa manja menggunakan sepeda motor kemana saja sejak duduk dibangku SMA, aku merasa agak canggung setiap kali menaiki angkutan umum untuk kuliah. Bahkan Tante dan Om-ku yang tinggal di Malang menawarkan untuk meminjamkan motor mereka untukku kuliah, semakin membuatku merasa gak enak karena merepotkan mereka. Namun tiba-tiba, kejutan datang di suatu hari.

Bapak menelpon dan menawarkan dua pilihan, Honda Tiger 2000 atau Kawasaki Ninja. Ternyata Bapak menawarkan hadiah itu karena aku telah berhasil kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Aku yang dulu sempat terkagum-kagum pada montoknya liuk tubuh dan garangnya Honda Tiger, tanpa pikir panjang langsung menyebutkannya dalam percakapan teleponku dengan Bapak. Namun kabar yang ditunggu-tunggu ternyata motor yang kuinginkan itu harus inden selama 2 bulan. Ibu yang gak tega karena aku selalu jalan naik angkutan umum ke kampus akhirnya berinisiatif untuk melihat-lihat seperti apa Kawasaki Ninja yang sebenarnya. Dan hanya berselang satu hari, Ibu tiba-tiba menelponku. “Kenapa gak Ninja aja, Mas?”, “Badannya gak terlalu besar seperti Tiger dan juga gak terlalu berat, cocok buat Mas Dika. Apalagi barangnya udah ada dan prosesnya cepat”, tawar Ibu lembut. Setelah berpikir dan berkonsultasi selama beberapa saat dengan Ibu dan Bapak melalui telepon, akhirnya kuputuskan untuk meminang Ninja 150R 2004 biru dengan velg racing silver, benar-benar langka pada zamannya di Malang saat itu. Dengan syukur alhamdulilah, akhirnya Si-Biru sampai di rumaku di Depok hari itu juga. Karena minggu itu merupakan pekan sunyi, aku menyempatkan diri untuk pulang ke Depok, yang akhirnya dapat kutatap juga motor macho itu. “Benarkah ini motor laki-laki pertamaku?” Aku masih bertanya tak percaya dalam hati, dan aku mencoba untuk menungganginya, sensasi yang tak terlupakan terlintas di benakku.

01

at the first sight

Saat pekan sunyi hampir berlalu, aku segera membeli tiket untuk kembali ke Malang dan mengirimkan Si-Biru melalui jasa paket PJKA. Dan masih dengan perasaan tak percaya, kubawa terus setiap hari setiap malamnya dalam beberapa minggu ketika ku tiba di Malang.

Entah mengapa, sejak mulai menguasai gerak-gerik motor 2 tak, aku mulai merasa bahwa tampilan standar (ori) ninja 150R memang touring, namun masih kurang pas untuk aku yang merasa masih muda. Perubahan pertama, dimulai dari pelepasan stiker-stiker ori dan mencoba untuk membuat sedikit strip cutting stiker (pada saat itu masa kejayaan Rossi di Yamaha Gauloises). Lampu depan langsung aku ganti dengan batok satria fu dan melepas besi pegangan boncenger. Setang diganti dengan setang jepit bawaan Posh (terpaksa karena saat itu masih langka).

first touch

first touch

Suatu hari sepulang kuliah, saat aku melewati Taman Krida Budaya Malang, aku melihat sekumpulan ninja-ninja berjejer dipinggir jalan. Seseorang memanggilku saat aku pelan-pelan melewati ninja-ninja itu sambil memperhatikan hasil-hasil modifan para pemiliknya. Spontan karena rasa penasaran, akhirnya aku berhenti dan seseorang dengan senyum lebar menghampiriku. “Mas, ninja-nya yah? Tinggal dimana?”, aku jawab seadanya saja pertanyaan itu. “Mau mampir Mas? Kalo gak keberatan. Gak papa kok, cuma kenalan aja”, akhirnya aku mulai berkenalan dengan para pemilik ninja itu dan ternyata mereka sedang berkumpul untuk meramaikan acara band yang akan diadakan oleh Lucky Strike. Mulai hari itu aku mengenal NIC’S (Ninja Club Sport) Malang dan karena ketertarikanku pada motor dan rasa penasaran untuk mengenal ninja lebih dalam melalui komunitas tersebut, akhirnya aku mulai bergabung. Dan hasilnya, dalam satu minggu penampilan Si-Biru berubah untuk kedua kalinya.

second touch

second touch

Modifikasi simple nan efisien (yang dapat dilihat bahwa ninja-ku bisa terlihat beda namun rupawan) dimulai dari pembelian bodi belakang ori yang akhirnya mengalami pemotongan sehingga tampak lebih runcing dan racy. Rear fender dilepas dan dibuatkan plat dudukan plat nomor dengan lampu belakang yang diganti dengan Second Rear Lamp Honda Astrea Grand. Jok pun mengalami perombakan menggunakan jok Yoshi yang membuat dudukan terasa lebih nyaman dan tidak membuat boncenger maju mundur. Shock belakang dibuat sedikit lebih tinggi dan terakhir… Cutting Sticker motif ‘Speed Hunter’ yang di inspirasi dari Racing Simulation Game — Need For Speed Undergorund 2, dipesan dan dibuatkan di bengkel cutting sticker CHN di Malang. Dengan tampilan kedua ketiga tersebut, aku membawa Si-Biru dengan bangga ke setiap sudut kota Malang(walau masih pakai uang orang tua).

Setelah 3 tahun berlalu, tampilan ketiga Si-Biru memang tampak awet, namun untuk Ban ternyata sudah aus dan harus diganti. Maka kuputuskan untuk menggantinya dengan ban Swallow (maklum kantong mahasiswa gak cukup untuk beli yang lebih bagus). Tetapi saat aku memasuki bengkel motor yang termasuk baru di Malang tersebut (Platinum), aku melirik knalpot Yoshimura khusus untuk ninja 150R maupun 150RR. Tanpa pikir panjang, kubeli pula knalpot fiber carbon tersebut.

third touch

third touch

Setelah lulus kuliah dan mulai mendapat pekerjaan, frekuensi membawa motor semakin sedikit karena lokasi kantor yang memang cukup jauh dari rumah sehingga tidak mungkin setiap hari setiap minggu-nya untuk selalu membawa motor karena benar-benar melelahkan (apalagi kalau lagi lembur). Karena Si-Biru ini mesinnya cukup manja (untuk jenis 2 tak), terkadang sering susah untuk dinyalakan karena mesin jarang dipanaskan (jalan-jalan). Maka dengan berat hati, kuputuskan untuk melepaskannya. Keputusan itupun diperkuat dengan alasan untuk menabung untuk membeli kendaraan yang lebih irit dan nyaman. Namun bertepatan dengan keputusan itu, secara kebetulan aku mampir di sebuah blog seorang biker sejati. Beliau adalah Mas Taufik Hidayat. Blogger yang cukup mengagumkan bagiku. Beliau banyak memberi inspirasi dan bahkan yang berakhir meracuniku (sebenarnya dari diri sendiri sih) untuk mengenali generasi penerus ninja 2 tak di Indonesia, tak lain dan tak salah lagi adalah Kawasaki Ninja 25oR. Maka semakin bulatlah tekadku untuk melepas Si-Biru. Dengan izin kedua orang tua dan calonku, akhirnya kulepaskan dan kuberikan pada seorang penawar kedua (dari internet) yang berdomisili di Cengkareng, Jakarta.

Dengan perasaan galau, rindu dan sedih, aku dan keluargaku menghantarkan kepergian Si-Biru didepan rumahku pada suatu sore hari. Terus terang, motor itu membawa banyak kenangan bagiku. Benar-benar berjasa bagiku. Kuharap Si Pemilik kedua mau merawatnya sebagaimana aku merawatnya, atau bahkan jika dia lebih menyayanginya. So long my brother, you’re always in my heart….

you're the best, Nin...

you're the best, Nin...

Iklan

6 Responses to “my previous precious speed hunter, Ninja 150R”

  1. Cha..... Says:

    huaaaaa Mikuuuuu cyna dbikin kgn sm ninin,,,,uhh np gak dksiiii pnerusna??/

    uhh pgn dbonceng Miku lg,,,,sbeL7….hukssss
    lanjtukan sm penerusNa donk pu,,,,

    • 6elegance9 Says:

      ada info nih,
      bagi yang mau bikin webpage domain .com dll secara gratis, bisa mulai dengan klik dan daftar DISINI atau DISINI dan syaratnya harus memenuhi point2 yang didapat dari langkah2 yang ditawarkan dari situs tersebut. atau bisa juga dengan mengajak min 9 orang.
      kalau ada yang gratis, kenapa harus membayar? (asal halal, piss)


  2. wah berarti…ganti ninja 250 neh…lebih mantab dounk… 😀

    • 6elegance9 Says:

      Yup yup yup…
      kalo bisa dibilang menurut pengalaman temen2 dan beberapa survey (lupa sumbernya), konsumen dari produk2 kawasaki begitu meninggalkan produk lamanya, gak akan jauh2 (tuk kembali memilih produk kawasaki) sebagai produk baru-nya (contohnya saya sendiri he… :)). CMIIW

  3. Rizal Islami Says:

    klo di kalimantan pakai NINJA best the best untuk gamapang dapat cewe

    • 6elegance9 Says:

      as always…
      ninja was the best legal sport motorcycle that has been produced in our country…
      (maaf kalo bahasa inggrisnya belepotan, lagi belajar… :p)
      kalo saya jadi cewek pun kalo ada ninja lewat pasti mbatin: “ada ninja tuh!!!ninja!!” setelah liat motornya baru liat orangnya… selanjutnya terserah anda. (no offensive bwt cewek, heee)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: